Translate

Kamis, 27 Februari 2014

Jarak



Perlu usaha untuk sampai kemari
Bahkan bermil-mil berjalan tanpa alas kaki masih lebih baik
Perih terasa ketika puluhan batu terjal menggores kaki
Malang melintang menggariskan darah yang mengucur deras
Siang memekat gelap…
Bias pucat wajah ketakutan berkeliaran
Mengalahkan setitik nyali yang ku punya
Haruskah aku kembali?
Terbayang senyum ramah rumah tempat kembali
Hangat tangan bukan tangan memanggil
Lalu aku lihat lagi terjal di depan menghadang
Ohh..betapa aku ingin pulang
Sejenak merebahkan logika di pangkuan realita
Andai aku bisa pulang

Tiba-tiba aku lihat bendera kemenangan disana
Berkibar pelan ingin digapai…

Andai aku bisa pulang…
Pulang dengan bendera itu di tangan
tentu lebih bahagia, sembuh sudah semua luka menganga

Masih ada bermil-mil lagi yang harus ku tempuh
Masih akan ada ratusan gores luka di kaki, di tangan, di kepala, di mana-mana
Masih ada ribuan wajah yang akan menakuti untuk melangkah
Tapi mereka bisa apa?
Jika semangat pulang menggelora di dada,
Mungkin bukan sekarang, tapi pulang itu pasti,
Pulang dengan bendera rasa bangga
Pasti.

Kamis, 20 Februari 2014

Man From The Past

Beberapa bulan terakhir aku mulai ketularan “gila” drama korea lagi padahal sebelumnya aku merasa sudah mulai sembuh, entah kenapa, mungkin karena rasa suntuk yang aku derita kian hari kian memuncak tanpa obat penenang yang pantas. Penyakit lama bermain game dan membaca novel romantis-sedikit picisan pun mulai giat kembali aku lakukan, seakan-akan itu kegiatan social yang akan menyelamatkan hidup separuh makhluk bumi, oke itu sedikit berlebihan. Kesimpulannya, aku semakin menjauh dari tugas utamaku yaitu mengerjakan tugas akhir yang seperti tiada akhir ini. Aku depresi berat! Mungkin kalau anak kaya yang depresi akan lari ke alcohol atau narkoba, nah karena duit yang aku punya “cekak” alias sangat terbatas, jadilah novel, game, dan drama korea menjadi pelarian selama masa “krisis” ini.

Man From Star adalah drama yang sedang aku gila-gilai karena ada uri oppa Kim Soo Hyun disana, setiap gundah mikirin tesis yang mau dibawa kemana langsung deh liat wajah oppa, hehehe *udah keliatan kaya penggemar Kdrama beneran belum ya? Hihihi Pokoknya semua episode drama ini aku ikutin karena kesengsem sama cara penceritaan drama yang maju-mundur, gaya bercerita film dan drama yang selalu membuat aku tertarik, terus hayalan ada pangeran setampan oppa Kim Soo Hyun setiap minggunya tentu tidak bisa diabaikan. Semakin depresi semakin sering aku memandang wajah tanpannya, bahkan demi kesehatan mental dan jiwa, poto oppa telah aku jadikan wallpaper hape, hehehe

sekian cerita tentang Pria Dari Bintang a.k.a Man From Star. Meskipun dia sangat tampan tapi ada pria lain yang ingin aku ceritakan, Pria dari Masa Lalu a.k.a Man From The Past. Tunggu, ini bukan judul drama korea terbaru yang akan menggantikan drama sebelumnya, ini murni cerita tentang kejadian hari ini yang benar-benar sangat mengganggu sekali. 

Seorang pria, tiba-tiba menelepon dan bertanya, “Masih kenal dengan saya?”, lalu dimana letak “mengganggunya?” oke, saat dia menelepon aku sedang berada di bagian tersilent di perpus tesis dan disertasi kampusku. Di ruangan ini, jangankan berbicara, bahkan berbisik pun dilarang, mungkin bukan dilarang tetapi jika berani mengeluarkan suara di ruangan ini maka anda “si manusia penghasil suara” akan langsung ditusuk-tusuk dengan puluhan mata manusia di ruangan itu, dan itu sangat “kejam”!

dan akhirnya, Man From The Past itu memaksaku mengingat bahwa aku pernah mengenalnya, dan memang benar aku mengingatnya sebagai “bukan manusia penting” dari masa lalu yang dengan kedipan mata saja aku akan segera melupakannya, hehehe mulai songongnya. Intinya, ternyata kami kenalan di facebook tepat setahun yang lalu, dan hanya itu, setelahnya kami tidak pernah berkomunikasi lagi. Lalu tiba-tiba hari ini datang, hellowwww…..kok bisa-bisanya dia ingat lagi sama eike?? Entah kenapa feeling “macan” ku mulai bangkit kalau ada peristiwa seperti ini, langsung curiga dan mengambil kesimpulan tercepat, bahwa “hanya pria iseng dan tidak ada kerjaan yang tiba-tiba datang, mengusik ketenangan dan membuat aku muak di detik pertama dia bicara” biasa…kumat lagi prejudice. 

Oh..no. Baru semenit lalu aku masih mencurigai dan menit selanjutnya aku langsung tahu aku tidak salah, dia freak dan gila. Pasti. Udah ah malas ngomongin dia. Manusia berhantu dari masa lalu.


Kamis, 06 Februari 2014

EMOSI


Memerah saga di langit, lalu hujan.
Seketika, dan tanah terkejut
Tidakkah jadwal kedatangan bisa ditunda?
Kasihan semut,
Kasihan unggas,
Masih terlalu jauh jalan mereka pulang
Bicara pulang,
Tadi pagi “pawang” hujan berkata hari akan cerah
Dan dia pun ingin pulang
Sekedar melabuhkan lelahnya disana, sejenak.
Pikirannya mengembara jauh hingga ke rumah,
Tapi tubuhnya tidak.
Terlalu berat katanya bila dibawa semua.

Ada rindu yang meronta,
Tapi hujan telah lebih dahulu menyapa.
Angin belum berkabar
Atas nama siapa kali ini langit menangis
Atas nama sedihkah?

Semut terus merapal mantra,
Perlahan seiring jalan yang licin menanjak
Berharap langit berhenti menangis
Berharap hatinya berhenti menangis



Bagai Mie Merindukan Bulan



Bulan mulai menua…
Lihatlah keriputnya bertambah dan kecantikannya pun memudar seiring berjalannya waktu. Begitu katanya. Seumpama seorang gadis, kini tubuhnya tak lagi sintal menggoda, kerlipan matanya pun hambar, cenderung pahit malah seumpama kopi yang dipaksa bertemu gula sejumput, hilang sudah semua gairah masa muda. Lihat juga kerut-kerut di mata sayu itu, apa masih ada cinta disana? Entahlah, aku hanya melihat tanya yang mengambang, “kapan bulan akan kembali muda?” pertanyaan murah yang diobral oleh semua bulan yang menua. 

Aku sedikit jengah.
Bulan ini terlalu cerewet ku rasa, bosan aku akan semua keluhannya. Bukan, bukan karena telah hilang simpatiku, hanya saja kata orang kehidupan ini bagai roda yang berjalan, mungkin saat ini sudah sepantasnya dia menua, keriput, dan layu jadi alangkah baiknya jika dia diam di sudut jangan menggangguku yang sedang sibuk dengan novel yang baru aku beli sehari yang lalu ini. Cerita novel ini jauh lebih meyakinkan, atau tepatnya lebih seru dibandingkan ocehan bulan tua yang tidak mutu. Bagaimana tidak, kapan lagi aku membaca kisah negeri yang dihuni oleh ribuan koruptor yang tersebar di seluruh negara, tapi negaranya tetap berjalan normal, masyarakatnya tetap bisa tidur nyenyak seperti tidak ada hal buruk yang terjadi. Manusianya bahkan tidak lebih bagai robot yang diprogram maju dan mundur sesuai keinginan pemesan. Sangat klasik dan mudah ditebak, tapi setidaknya kisah ini masih lebih menarik daripada melihat keriput bulan yang menua.

Bulan semakin tua. Dan aku tidak berani keluar rumah.
Lihatlah, pagi baru beranjak dengan malasnya, perlahan tanpa dikejar jadwal yang terburu, begitupun aku yang masih ingin menikmati harum-apek bantal kesayangan yang sarungnya tiga bulan belum ku cuci. Pagi ini akan sangat sempurna sebelum bulan tua itu kembali nyinyir mengingatkanku untuk mengantarkannya konsultasi ke pakar kesehatan. Ohh sepertinya alam belum memberikan mukjizatnya padaku, yang hingga hari ini masih di-ganduli si bulan yang ku benci, bulan tua bangka. Dikiranya ada obat awet muda, kalau sudah tua terima sajalah nasib yang ada, jangan merengek seperti anak kecil "ngambek" minta gulali. Aku lelah harus selalu bersamamu. Aku kan hanya manusia biasa yang merindukan senyum-sapa dara jelita yang segar, ranum, dan menggoda. Bukan berkutat bersama kamu yang tua, ooh lihatlah aku pun jadi terluhat kusam dan tua di dekatmu, bulan tua, pergilah aku mohon, pergilah yang jauh supaya aku bisa hidup tenang, tanpa kamu yang mengganggu.

Siang menjelang. Langkah pun memberat seiring waktu berjalan.
Malas kaki ini melangkah, begitupun kepala ini semakin malas berpikir. Mengertilah, apa yang akan mampu “otak sederhana” ini pikirkan jika bahan bakar untuk otak ini bekerja saja belum lagi terpenuhi karena bulan sudah menua. Ku pandangi dompet dengan penuh dendam karena yang terlihat disana hanya kerontang dan debu kering beterbangan, bak gurun sahara di saat musim yang paling kemarau, ya! apalagi, di sana hanya ada kertas-kertas tagihan yang berdesakan satu sama lain minta diperhatikan. Dasar manja!
Bulan masih tua, mengeringkan semangat untuk belajar, bagaimana tidak sahabat pun kini hilang satu persatu, yang tinggal hanya sebungkus mie instan sisa bulan lalu di pojokan kamar. Lihatlah betapa seksinya dia dengan baju hijau bertuliskan “rasa soto”. Dia berkedip manja padaku, sayang aku terlalu tidak bersemangat untuk bercumbu dengannya, setidaknya tidak malam ini. Aku sudah terlalu lelah mendengar ocehan si bulan tua ini. Tiada henti dia memarahiku. Katanya aku terlalu boros lah, tidak bisa menentukan prioritas, plin-plan. Sungguh, untung dia sudah keriput kalau tidak akan aku jambak rambutnya, aku seret ke tengah jalan untuk aku permalukan. Tidakkah dia tahu aku ini adalah tipe manusia “visioner?”. Oke, mungkin barang-barang yang aku beli sekarang belum aku butuhkan, tapi lihat, sebulan, tiga bulan, setahun dari sekarang? Bulan akan berterima kasih padaku yang punya target dan pandangan jauh kedepan, tidak seperti orang lain. Bagiku, tak apa melarat sekarang asalkan di masa depan jadi konglomerat. Bagaimana bulan? Pasti kamu sekarang sedang terpesona kan? Easy…aku tidak sedang membuatmu kagum, sama sekali tidak, aku hanya ingin kamu mengerti bahwa setiap kamu datang maka mood-ku akan rusak, pecah berantakan, emosi dan air matapun akan lebih mudah mengalir bagai didiskon dan selanjutnya diobral dengan harga terendah. Oke, mungkin aku mulai lebay, tapi gara-gara kamu datang, dan dompetku kerontang, aku harus menangis di depan orang lain hanya karena tersinggung ketika si seksi “soto ayam” berupa semangkok mie yang berhasil kuseduh (yang sebelumnya berhasil aku beli dengan sisa-sisa koin yang ada di dompet) direbut paksa oleh temanku, sebenarnya dia bermaksud baik (aku tahu itu), dia hanya ingin membagi makanan miliknya sehingga tidak mengizinkanku makan “makanan jelata” itu. Tidak sehat katanya. Tapi tahu apa dia, dan tahu apa semua orang kalau “makanan jelata” yang dia maksud adalah tetes akhir harapan yang aku punya, simbolisasi dari sedikit harga diri yang aku punya. Aku masih punya sedikit harga diri untuk tidak meminta bantuan bahkan pinjaman dari orang lain hanya karena kamu semakin menua wahai bulan. Teringat kata temanku yang lain, bahwa hidupnya sangat tidak tenang bahkan hanya karena meminjam uang seribu dariku, seribu rupiah yang bahkan aku lupa pernah meminjamkannya. Tapi dia ingat itu, dan menjadi sulit tidur katanya. Lalu manusia macam apa aku yang karena kamu si bulan tua bangka datang aku harus mengemis meminjam sana-sini. Aku juga punya malu!

Dalam ketiadaanku aku bahkan masih punya harga diri, meski secuil dan susah payah aku pertahankan.

Mungkin si teman tersinggung? Biarlah..biar dia tahu bagaimana hatiku terluka ketika my baby “soto ayam” direbut paksa dan dilarang makan. Biar dia tahu dan biar orang lain tahu, aku tidak pernah mengintervensi “apa” dan “bagaimana” orang lain makan, lalu kenapa aku harus diintervensi? Bukankah sekarang jaman kemerdekaan?, kecuali babi dan anjing asalkan halal semua boleh dimakan? Meskipun tidak sehat untuk tubuh setidaknya akan sehat untuk jiwa terutama harga diri yang kumiliki yang seperti kulit bayi lembut dan rapuh sehingga mudah terluka.

Karena kamu semakin menua, maka aku sebaiknya aku menyendiri, sementara waktu hingga yang muda kembali datang untuk menggoda.

Yogyakarta, 2014
Untuk uang sepuluh ribuan tercinta,
aku mohon, tetaplah setia.